KesehatanKutai Timur

Air Sungai Sangatta Berubah Hijau, FKDM Kutim Soroti Indikasi Intrusi Air Laut dan Ancaman Pasokan Air Bersih

FKDM, Kutai Timur – Perubahan warna air Sungai Sangatta menjadi hijau jernih di kawasan Jembatan Kampung Kajang, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, menjadi perhatian Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kutai Timur.

Pemantauan dilakukan Tim FKDM Kutai Timur pada Rabu, 16 September 2026, dengan menyusuri kondisi perairan dari sekitar Jembatan Kampung Kajang hingga kawasan Kampung Tengah, Sangatta Selatan.

Secara visual, air sungai terlihat mengalami perubahan warna yang cukup mencolok. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan berkurangnya debit air tawar dari wilayah hulu akibat musim kemarau.

Ketua FKDM Kutai Timur, Khoirul Arifin, mengatakan perubahan warna air tersebut perlu ditempatkan sebagai sinyal kewaspadaan dini. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan intrusi air laut masih membutuhkan pembuktian melalui pengujian parameter kualitas air.

“Perubahan warna air Sungai Sangatta ini perlu menjadi perhatian bersama. Secara visual memang terdapat indikasi yang perlu diwaspadai, tetapi untuk memastikan apakah benar terjadi intrusi air laut harus dilakukan pengujian laboratorium, khususnya kadar salinitas,” ujar Khoirul Arifin.

Saat pemantauan, tim FKDM juga melakukan pengecekan sederhana terhadap sampel air secara organoleptik. Hasilnya, air yang diamati masih terasa tawar dan belum menunjukkan rasa asin.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi lapangan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan air Sungai Sangatta telah mengalami peningkatan kadar garam. Karena itu, pemeriksaan secara terukur menjadi penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

FKDM Kutai Timur menilai aspek yang paling perlu diantisipasi bukan semata perubahan warna air, tetapi kemungkinan perubahan kualitas air baku yang dapat berdampak terhadap pengolahan dan distribusi air bersih.

Jika kadar salinitas meningkat, kondisi tersebut perlu segera diketahui oleh pengelola air minum daerah agar dapat menentukan langkah operasional berdasarkan hasil pengukuran.

Perumda Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) Kutai Timur dinilai perlu melakukan pemantauan parameter kualitas air secara berkala di kawasan intake Sungai Sangatta. Parameter seperti salinitas, TDS dan klorida dapat menjadi bagian dari pemeriksaan untuk mengetahui perubahan kualitas air secara lebih objektif.

“Yang kita dorong adalah langkah preventif. Jangan sampai ketika kondisi sudah mengganggu proses produksi air bersih, baru dilakukan penanganan. Lebih baik parameter air baku dipantau sejak sekarang sehingga keputusan operasional bisa dilakukan berdasarkan data,” kata Khoirul.

Menurutnya, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih luas karena menyangkut keberlangsungan layanan air bersih masyarakat. Apabila kualitas air baku tidak memenuhi persyaratan pengolahan, pengelola harus memiliki skenario operasional yang jelas.

Potensi persoalan tidak berhenti pada kondisi sungai. Jika air baku mengalami perubahan kualitas dan berdampak terhadap proses produksi, konsekuensinya dapat merembet kepada pelayanan masyarakat.

Gangguan produksi dapat berujung pada berkurangnya tekanan air, terganggunya distribusi, hingga penghentian sementara pelayanan pada wilayah tertentu, tergantung kondisi teknis dan keputusan pengelola.

Di sisi lain, apabila terjadi perubahan rasa atau kualitas air yang diterima pelanggan, keresahan masyarakat juga berpotensi meningkat, terutama jika tidak diikuti penjelasan resmi mengenai kondisi air dan langkah penanganannya.

“Karena itu komunikasi publik juga penting. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang jelas berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan berdasarkan spekulasi. Kalau memang aman, sampaikan bahwa aman. Kalau ada pembatasan atau gangguan pelayanan, masyarakat juga harus mengetahui penyebab dan langkah yang dilakukan,” jelas Khoirul.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, warga menyebut perubahan warna air Sungai Sangatta telah terlihat dalam beberapa hari terakhir. Namun pada Rabu, 16 September 2026, perubahan warna tersebut dinilai semakin tampak secara visual.

Temuan tersebut menjadi alasan bagi FKDM untuk mendorong pemantauan lebih intensif, khususnya selama kondisi kemarau masih berlangsung.

FKDM juga menilai pemantauan tidak hanya dilakukan pada satu titik, tetapi perlu melihat perkembangan debit dan kualitas air dari wilayah hulu hingga kawasan intake. Dengan demikian, perubahan kondisi sungai dapat diketahui lebih awal dan tidak semata berdasarkan pengamatan visual masyarakat.

Khoirul mengatakan FKDM Kutai Timur mendorong adanya langkah antisipasi lintas sektor antara Perumdam TTB, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan instansi terkait.

Selain pemantauan kualitas air baku, skenario distribusi air bersih darurat juga perlu dipersiapkan apabila dalam perkembangan berikutnya produksi air harus mengalami penyesuaian.

“Mitigasi harus disiapkan sebelum terjadi persoalan. Termasuk kemungkinan penyediaan armada tangki air apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan produksi atau distribusi. Ini bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” ujarnya.

FKDM juga mendorong pemantauan debit Sungai Sangatta di sekitar titik intake secara berkala. Data debit tersebut penting untuk melihat hubungan antara berkurangnya aliran air tawar dengan perubahan kondisi perairan di bagian sungai yang lebih dekat dengan pengaruh pasang surut.

Bagi FKDM, perubahan warna air Sungai Sangatta merupakan peringatan dini yang perlu diverifikasi, bukan kesimpulan bahwa telah terjadi intrusi air laut.

Karena itu, langkah berikutnya menjadi krusial: memastikan kondisi tersebut melalui data ilmiah, mengukur kualitas air secara berkala, serta menyiapkan langkah mitigasi apabila parameter air baku menunjukkan perubahan yang dapat memengaruhi pengolahan air bersih.

“Intinya jangan panik, tetapi juga jangan mengabaikan. Kita membutuhkan data, pemeriksaan laboratorium dan kesiapan mitigasi. Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga setiap indikasi perubahan kondisi sumber air harus ditangani secara cepat, terukur dan transparan,” pungkas Khoirul Arifin. (Pj/An)

What's your reaction?

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *