KesehatanKutai Timur

Kasus ISPA di Kutim Capai 2.586, FKDM Ingatkan Warga Waspadai Dampak Asap Karhutla

FKDM Kutim, Sangatta – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencapai 2.586 kasus sepanjang periode bulan Mei hingga Agustus 2026. Peningkatan tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca panas dan munculnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah.

Peningkatan kasus juga terlihat di Puskesmas Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara. Data menunjukkan jumlah pasien ISPA terus mengalami kenaikan selama tiga bulan terakhir.

Pada Juni 2026 tercatat 285 pasien. Jumlah tersebut meningkat menjadi 438 pasien pada Juli, kemudian kembali naik menjadi 503 pasien pada Agustus 2026.

Artinya, terjadi kenaikan sebanyak 153 pasien dari Juni ke Juli dan bertambah 65 pasien pada Juli ke Agustus. Jika dibandingkan dengan Juni, jumlah pasien ISPA pada Agustus meningkat sekitar 76,5 persen.

Menanggapi hal tersebut, Ketua FKDM Kutim, Khoirul Arifin, mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, persoalan Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah, terlebih ketika kondisi udara dipengaruhi asap Karhutla,” ujar Khoirul, Minggu (06/09/2026).

Ditengah kondisi cuaca yang cukup panah, Khoirul juga meminta masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih. Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan.

“Kalau mengalami batuk, sesak napas, tenggorokan sakit atau keluhan pernapasan lainnya yang menetap, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” katanya.

Khoirul menegaskan pencegahan Karhutla harus menjadi tanggung jawab seluruh pihak. Upaya tersebut dinilai penting bukan hanya untuk mencegah kerusakan lingkungan, tetapi juga menjaga kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

“Karhutla bukan hanya persoalan lahan yang terbakar. Dampaknya bisa dirasakan masyarakat melalui kualitas udara dan kesehatan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan bersama-sama,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di wilayah masing-masing.

FKDM Kutim juga akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi di tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan Karhutla, kualitas udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan warga.

“Kami berharap sinergi pemerintah daerah, aparat, dunia usaha dan masyarakat terus diperkuat. Jangan sampai persoalan Karhutla berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar,” pungkasnya. (It/An)

What's your reaction?

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *